
← Kembali ke koleksi
— / 5

MPC-0045 / Sastra Anak
Dayang Rindu, Permata dari Tanjung Iran (Cerita Rakyat Lampung)
Buku ini menceritakan kisah Putri Dayang Rindu, seorang putri dari Kerajaan Tanjung Iran yang dipimpin oleh Raja Wayang Semu dan Permaisurinya. Kehadiran Dayang Rindu sangat dinanti-nanti untuk melengkapi kebahagiaan istana setelah kakak laki-lakinya, Pangeran Bayi Cili, lahir. Selain berparas sangat cantik, Dayang Rindu tumbuh menjadi sosok putri yang baik budi, santun, rendah hati, dan sangat menghargai rakyatnya. Ketika berusia 11 tahun, ia sering bergaul dengan rakyat biasa, ikut membantu Uwak Kosimi memanen padi di sawah, hingga merasakan sendiri bagaimana beratnya perjuangan rakyat kecil. Ingin menguji ketulusan hati rakyatnya, Dayang Rindu meminta izin kepada orang tuanya untuk melakukan perjalanan penyamaran di luar istana didampingi kakeknya, Kerie Carang. Berpakaian sebagai rakyat biasa yang sedang kemalaman dan membutuhkan tumpangan, Dayang Rindu dan kakeknya mendatangi berbagai rumah orang kaya di beberapa perkampungan: 1. Ki Maliun: Orang terkaya pemilik kebun kopi yang sombong dan menolak memberikan tempat menginap bagi orang biasa. 2. Istri Ki Sohemi: Tokoh terpandang yang istrinya pelit dan menolak memberi tumpangan kepada orang asing. 3. Beberapa orang kaya lainnya yang terus menolak dan mengusir mereka. Meskipun berkali-kali ditolak dan tidur di gubuk sungai, Dayang Rindu tidak berkecil hati maupun dendam. Pencariannya akhirnya membuahkan hasil saat tiba di rumah Ki Bastari. Ki Bastari menyambut mereka dengan sangat ramah, hangat, dan ikhlas memberikan tempat menginap tanpa memandang kedudukan atau pakaian mereka. Setelah penyamarannya selesai dan kembali ke istana, desas-desus mengenai penyamaran Dayang Rindu tersebar. Orang-orang kaya yang dahulu mengusirnya merasa sangat malu dan menyesal. Namun, Dayang Rindu tidak membalas dengan kejahatan, melainkan mengundang Ki Bastari ke istana untuk mengucapkan terima kasih secara terhormat. Kisah ini memberikan pesan moral berharga bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan atau kekayaannya, melainkan dari rasa kemanusiaan, kebaikan budi, dan kepedulian terhadap sesama.
LisensiPublisher Permission
Pemegang hakBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
DistribusiDiizinkan
01 / KATEGORI
Sastra Anak
Buku ini berada dalam koleksi Sastra Anak. Jelajahi judul lain dengan tema serupa.
Lihat semua buku kategori ini →02 / CONTENT MAP
Daftar isi
Daftar isi
Daftar isi belum tersedia untuk buku ini.
COMMUNITY NOTES
Ulasan pembaca
Belum ada ulasan.



