
← Back to collection
— / 5

MPC-0051 / Hukum & Ekologi Islam (Buku Saku)
Hakikat Anjing dalam Tradisi Islam dan Alam
Buku saku ini mengulas secara kritis dan historis mengenai perdebatan posisi anjing dalam tradisi hukum, fiqih, serta kebudayaan Islam. 1. Akar Perdebatan & Konstruksi Narasi Anti-Anjing - Diskursus tentang anjing mencerminkan dinamika antara hukum agama dan hakikat ciptaan di alam. - Munculnya narasi anti-anjing—seperti tuduhan anjing hitam sebagai iblis, perlakuan air liur anjing sebagai kontaminan, hingga klaim bahwa malaikat tidak masuk ke rumah yang dipelihara anjing—banyak bersumber dari bias budaya, mitologi Arab pra-Islam, dan hadis-hadis yang dinilai oleh sebagian besar ahli hukum Islam tidak sahih/palsu. - Riwayat yang menyejajarkan anjing dengan perempuan atau non-Muslim saat sholat sempat diprotes keras oleh 'Aisyah r.a. dan mayoritas fuqaha memutuskan riwayat tersebut tidak asli. 2. Perspektif Al-Qur'an dan Praksis Historis Awal Islam - Al-Qur'an sama sekali tidak pernah menyebut anjing sebagai hewan najis atau simbol kejahatan. - Catatan sejarah awal menunjukkan bahwa anjing berkeliaran dengan leluasa di Madinah dan bahkan masuk ke masjid Nabi. Beberapa sahabat pun memiliki anak anjing, dan terdapat hadis terkenal tentang dijaminnya surga bagi orang yang menyelamatkan anjing kehausan. 3. Perbedaan Mazhab tentang Kesucian Anjing - Para ulama menolak perintah pembunuhan anjing karena hal itu bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap alam dan semua bentuk kehidupan ciptaan Tuhan. - Mazhab Maliki berpendapat bahwa semua makhluk ciptaan Allah di alam pada dasarnya suci, sehingga anjing tidak membatalkan sholat. - Perintah mencuci wadah yang dijilat anjing dikaji secara rasional oleh sejumlah ulama pra-modern sebagai langkah pencegahan kesehatan dari potensi infeksi rabies atau pembeda antara anjing peliharaan yang bersih dan anjing liar. 4. Kontradiksi Budaya dan Dampak Modernitas - Di satu sisi, sastra Arab mengagumi anjing karena kesetiaannya. Di sisi lain, budaya populer sering menganggapnya jorok. - Di era modern, pandangan ketat anti-anjing mendominasi karena dekonstruksi lembaga hukum Islam masa kolonial serta menguatnya gerakan puritanisme, yang menyebabkan banyaknya umat Islam saat ini tidak menyadari fleksibilitas dan keterbukaan yurisprudensi Islam pra-modern terkait kesucian anjing.
LicensePublisher Permission
Rights holder—
DistributionAllowed
01 / CATEGORY
Hukum & Ekologi Islam (Buku Saku)
This book belongs to the Hukum & Ekologi Islam (Buku Saku) collection. Explore more titles with a similar theme.
Browse all books in this category →02 / CONTENT MAP
Table of contents
Table of contents
A table of contents is not available for this book yet.
COMMUNITY NOTES
Reader reviews
No reviews yet.




