
← Back to collection
4 — / 5

MPC-0021 / Dongeng
Legenda Rawa Pening
1. Asal-usul Baru Klinting Cerita bermula dari Desa Ngasem di kaki Gunung Telomoyo. Karena sebuah pelanggaran tak sengaja terhadap pantangan pusaka milik Ki Hajar Salokantara, Endang Sawitri mengandung dan melahirkan seekor naga sakti yang bisa berbicara, bernama Baru Klinting. 2. Pengakuan sang Ayah & Pertapaan Saat menginjak remaja, Baru Klinting menyusul ayahnya yang sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo untuk meminta pengakuan. Untuk membuktikan keabsahannya sebagai anak, Ki Hajar memberi syarat agar Baru Klinting melingkari Gunung Telomoyo dengan tubuh naganya. Setelah berhasil, sang ayah memerintahkannya untuk bertapa di bukit/hutan agar wujudnya bisa berubah menjadi manusia. 3. Penolakan Warga Desa Pathok Sementara itu, warga Desa Pathok yang makmur tetapi sombong mengadakan pesta panen/sedekah bumi. Saat berburu, mereka menangkap seekor naga (tubuh pertapaan Baru Klinting) dan memotong dagingnya untuk hidangan pesta.Baru Klinting kemudian menjelma menjadi seorang anak kecil dengan tubuh lusuh, penuh luka, dan berbau amis. Ia mendatangi pesta tersebut untuk meminta makan, tetapi warga justru memaki, menghina, dan mengusirnya. Hanya seorang janda tua baik hati bernama Nyi Latung yang mau menerimanya dan memberinya makan. Sebelum pergi, Baru Klinting berpesan kepada Nyi Latung agar menyiapkan lesung (penumbuk padi) jika mendengar suara gemuruh. 4. Ujian Lidi & Terbentuknya Rawa Pening Baru Klinting kembali ke desa dan menancapkan sebatang lidi di tanah, lalu menantang warga untuk mencabutnya. Tidak ada seorang pun warga bahkan pria dewasa yang paling kekar yang sanggup mencabut lidi tersebut.Baru Klinting sendiri yang akhirnya mencabut lidi itu. Semburan air deras langsung keluar dari bekas tancapan lidi hingga memicu banjir besar yang menenggelamkan seluruh desa beserta penduduknya yang sombong. Satu-satunya yang selamat adalah Nyi Latung yang menaiki lesung sebagai perahu. Genangan air luas itulah yang kelak dikenal sebagai Rawa Pening. Pesan Moral Jangan Menilai dari Penampilan: Jangan merendahkan atau menghina orang lain hanya karena kondisi fisik atau status sosialnya. Keangkuhan Membawa Malapetaka: Kesombongan dan ketidakpedulian terhadap sesama yang membutuhkan akan membuahkan akibat buruk. Kebaikan Dibalas Kebaikan: Sikap empati dan ketulusan berbagi (seperti yang ditunjukkan Nyi Latung) membawa keselamatan.
LicensePublisher Permission
Rights holder—
DistributionAllowed
01 / CATEGORY
Dongeng
This book belongs to the Dongeng collection. Explore more titles with a similar theme.
Browse all books in this category →02 / CONTENT MAP
Table of contents
COMMUNITY NOTES
Reader reviews
No reviews yet.



