
← Kembali ke koleksi
16 — / 5
MPC-0002 / Sastra/puisi
Sitti Nurbaya
Novel ini menceritakan kisah Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri yang sudah saling dekat sejak dari sekolah rakyat. Sitti Nurbaya diceritakan sebagai anak pedagang kaya Bagindo Sulaiman, dan Samsul Bahri adalah anak Sutan Mahmud seorang Penghulu di Padang. Keduanya harus berpisah karena Samsul Bahri harus melanjutkan sekolah dokter ke Jakarta. Novel ini juga menghadirkan sosok Datuk Maringgih yang merupakan seorang kaya yang kikir di Padang. Datuk Maringgih melakukan tipu muslihat kepada Bagindo Sulaiman (ayah Sitti Nurbaya) yang membuat ia jatuh miskin. Datuk Maringgih awalnya meminjamkan uang kepada Bagindo Sulaiman yang kemudian uang itu tidak dapat dikembalikan oleh Bagindo Sulaiman. Datuk Maringgih akhirnya mengadukan hal itu kepada Belanda agar Baginda Sulaiman dipenjarakan. Dengan kepiawaiannya, Datuk Maringgih memberikan pilihan kepada Bagindo Sulaiman supaya tidak dipenjara dengan syarat Sitti Nurbaya dapat diperistri oleh Datuk Maringgih. Diceritakan bahwa Sitti Nurbaya rela menikah dengan Datuk Maringgih tanpa paksaan dari Baginda Sulaiman. Mendengar pernikahan tersebut, Samsul Bahri sangat kecewa. Bahkan, Samsul Bahri nekad bunuh diri. Akan tetapi, rencana itu dapat digagalkan oleh seseorang. Disisi lain, Sutan Mahmud (ayah Samsul Bahri) di Padang telah mendengar bahwa Samsul Bahri telah meninggal karena bunuh diri. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya Samsul Bahri memutuskan untuk menjadi opsir Belanda. Dalam penugasannya, ia dikirim ke Padang untuk memadamkan suatu pemberontakan di sana. Di medan inilah Samsul Bahri akhirnya bertemu dengan pemberontak yang dikepalai oleh Datuk Maringgih. Dikisahkan Datuk Maringgih akhirnya menginggal dunia dalam pertempuran ini begitu pula dengan Samsul Bahri yang meninggal setelah berada di rumah sakit. Hal mencengangkan lainnya adalah bahwa Sitti Nurbaya telah lama meninggal dunia karena diracun oleh Datuk Maringgih. Sampai sekarang di Gunung Padang ada lima kuburan yang berjejer. Kuburan itu adalah kuburan Bagindo Sulaiman, kuburan Sitti Nurbaya, kuburan Samsul Bahri, kuburan Sitti Maryam (ibu Samsul Bahri), dan kuburan Sutan Mahmud (ayah Samsul Bahri). Biografi Marah Rusli, Penulis Novel Sitti Nurbaya Marah Rusli merupakan seorang pengarang yang lahir pada 7 Agustus 1889 di kota Padang dan meninggal dunia pada 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Ia dilahirkan di lingkungan keluarga yang beragama Islam. Dalam dunia sastra, ia pernah memakai nama samaran Sadi B. Marah Rusli dilahirkan sebagai keturunan bangsawan. Gelar "Marah" untuk Marah Rusli diperolehnya dari ayahnya yang bergelar "Sutan", yakni Sutan Abu Bakar yang merupakan seorang demang dan merupakan keturunan langsung Raja Pagaruyung. Sementara ibunya berasal dari Jawa dan masih keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Dalam adat Minangkabau, anak laki-laki dari seorang ayah yang bergelar Sutan dan ibu yang tidak bergelar, akan memiliki gelar "Marah". Novel Sitti Nurbaya merupakan salah satu karya Marah Rusli yang paling penting. Oleh Marah Rusli, Novel ini beri anak judul dengan frasa “Kasih Tak Sampai”.
LisensiPublisher Permission
Pemegang hak—
DistribusiDiizinkan
01 / KATEGORI
Sastra/puisi
Buku ini berada dalam koleksi Sastra/puisi. Jelajahi judul lain dengan tema serupa.
Lihat semua buku kategori ini →02 / CONTENT MAP
Daftar isi
01Pulang dari SekolahHalaman 1 ↗02Sutan Mahmud dengan Saudaranya yang PerempuanHalaman 13 ↗03Berjalan-Jalan ke Gunung PadangHalaman 26 ↗04Putri Rubiah dengan AlimahHalaman 64 ↗05Asal Kasih SayangHalaman 76 ↗06PertengkaranHalaman 101 ↗07Berikhtiar Mencari UangHalaman 102 ↗08Nurbaya SakitHalaman 118 ↗09BerundingHalaman 138 ↗10Nurbaya Pergi ke BataviaHalaman 139 ↗11Di Dalam PenjaraHalaman 156 ↗12Pulang ke PadangHalaman 202 ↗13Di Atas KuburanHalaman 222 ↗14Letnan MasHalaman 280 ↗15Pemberontakan di PadangHalaman 299 ↗16Peperangan Antara Samsulbahri dan Datuk MeringgihHalaman 338 ↗
COMMUNITY NOTES
Ulasan pembaca
Belum ada ulasan.




